Tertibkan Pembangunan Mal di DKI
JAKARTA, KOMPAS.com — Untuk menyelamatkan Jakarta dari bencana, seperti banjir dan kekeringan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pemerintah kota harus tegas menertibkan pembangunan pusat perbelanjaan yang tidak sesuai dengan daya dukung lingkungannya.
”Perizinan pembangunan pusat perbelanjaan atau superblok yang menggabungkan hunian dan usaha komersial harus ditinjau ulang. Data yang saya terima, di Jakarta Selatan ada pembangunan 30 kompleks gedung baru. Itu tidak sesuai dengan proyeksi awal pembangunan Jakarta yang menempatkan Jakarta Selatan sebagai kawasan hijau,” kata pengamat perkotaan Nirwono Yoga, Kamis (19/8/2010).
Nirwono mengatakan, berdasarkan citra satelit ICOMOS, lebih dari 80 persen kawasan Jaksel menjadi areal terbangun. Kawasan Kebayoran Baru, yang dinobatkan sebagai kota taman, kini hanya menyisakan 20 persen wilayahnya sebagai ruang terbuka hijau.
Ketika 30 kompleks gedung dibangun, antara lain di kawasan TB Simatupang, Lebak Bulus, Blok M, Dukuh Atas, Manggarai, Kemang, dan Kebayoran Baru, kondisi lingkungan Jakarta diyakini bakal semakin parah.
Jika berkeliling Jaksel, sebagian besar wilayah kota itu tak lagi hijau penuh pepohonan. Selama dua tahun terakhir, di sepanjang Jalan TB Simatupang bangunan tinggi bermunculan.
Berdasarkan data banjir Jakarta tahun 2007, kawasan Kemang pernah tergenang hingga kedalaman air 5 meter. Namun, selama tiga tahun ini, justru tidak dibangun kawasan resapan air baru atau membenahi Kali Krukut yang mengalami pendangkalan dan penyempitan parah.
Di Kemang justru marak pembangunan gedung tinggi dan superblok. Di Gandaria yang berbatasan dengan Arteri Pondok Indah muncul superblok serupa.
Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Hertanto Soebijoto
Berdasarkan artikel diatas saya memberikan kritikin sebagai berikut
Seperti yang kita ketahui, di Jakarta minimnya lahan penyerapan air dan kurangnya taman sebagai paru-paru kota. Hal ini merupakan salah satu tanggung jawab pemerintah daerah. Seharusnya pembangunan gedung-gedung dan pusat perbelanjaan tidak terlalu banyak karena akan berpengaruh terhadap lahan penyerapan air yang semestinya lebih diperhatikan. Pembangunan mal di Jakarta pun lebih baik tidak ditingkatkan, karena di berbagai sudut kota Jakarta, sudah banyak terlihat mal. Mal-mal yang ada di Jakarta hanya perlu diperbaharui atau ditingkatkan kualitasnya. Dan masalah ini merupakan salah satu faktor penyebab Jakarta rawan banjir. Selain itu juga polusi udara juga menjadi salah satu masalah yang harus diperhatikan.
Dalam artikel diatas, menyebutkan bahwa Jakarta Selatan dinobatkan sebagai kota taman, namun faktanya tidak demikian. Sekarang Jakarta Selatan dipenuhi dengan bangunan perumahan dan pusat perbelanjaan, kini hanya menyisakan 20 persen wilayahnya sebagai ruang terbuka hijau. Karena hal ini pada tahun 2007 salah satu daerah di Jakarta Selatan, yaitu Kemang pernah mengalami banjir dengan kedalaman air 5 meter. Hal ini membuktikan bahwa pemerintah daerah kurang memperhatikan keadaan di Jakarta ini.
Sebenernya pemerintah bisa lebih memperhatikan hal ini dan mengatasinya. Lahan kosong yang ada, lebih baik dibuat taman kota di berbagai sudut kota Jakarta yang lebih banyak manfaatnya. Manfaat taman kota adalah bisa mengurangin polusi udara, menjadi penyerapan air hujan meminimalisir terjadinya banjir, dan kota Jakarta menjadi lebih hijau. Tidak hanya itu kota Jakarta juga menjadi tempat yang nyaman bagi masyarakat disekitarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar